Musibah Kapal Pesiar: Pernah Lihat Film Titanic? Seperti Itulah yang Terjadi

Leave a Comment
 
AFP
 
"Pernah lihat (film) Titanic? Persis seperti itulah yang yang terjadi."

Ungkapan itu dilontarkan Valerie Ananias (31), seorang guru sekolah dari Los Angeles yang berlibur di kapal pesiar mewah Italia, Costa Concordia, yang mengangkut lebih 4.000 orang. Kapal itu kandas usai menabrak karang di lepas pantai Tuscan, Italia.

Valerie berlibur bersama saudari dan kedua orangtuanya. "Semua orang merangkak di koridor yang nyaris vertikal," ceritanya seperti dilansir The Telegraph, Sabtu (14/1/2012).

Saat musibah terjadi pada Jumat 13 Januari 2011 saat makan malam, orang-orang berebutan menyelamatkan diri, suasana sangat kacau, menakutkan, air laut sangat dingin dan gelap gulita, persis seperti yang digambarkan di film Titanic besutan tahun 2007.

"Kami merangkak naik lorong, dalam gelap, hanya dengan cahaya dari jaket pelampung yang berkedip," kata ibu Valerie, Georgia (61). "Kami bisa mendengar piring dan hidangan berjatuhan, orang-orang terhempas ke tembok," imbuhnya.

Georgia menuturkan, ada pasangan Argentina yang menyerahkan bayi perempuan mereka padanya karena tak mampu menjaga keseimbangan akibat kapal yang terus condong. Mereka tertinggal berdiri di dinding, tidak bisa merangkak lebih jauh.

"Dia bilang, ambil bayi saya," kata Georgia sembari terisak. "Saya menangkap bayi itu, tapi kemudian saya terdorong ke bawah. Saya tidak mau bayi itu terjatuh ke tangga. Saya kembalikan bayi itu. Saya pikir saat itu telah tamat dan mereka seharusnya bersama bayi mereka," ceritanya.

Valerie berbisik,"Saya ingin tahu di mana mereka sekarang berada?" Keluarga ini selamat setelah berjuang mendapatkan sekoci.

Kirsty Cook, satu dari delapan penari Inggris yang bekerja di kapal pesiar raksasa itu mengatakan, dia "beruntung masih hidup" setelah menggunakan tangga tali untuk turun ke perahu penyelamat. Penari lainnya, Rosie Metcalf, 22, dari Dorset, harus berpegangan erat pada selang kebakaran sebelum diselamatkan oleh kru helikopter.

Kapal pesiar itu berjarak 3 jam dari pelabuhan dan penumpang belum diberi latihan keselamatan. Jumlah penumpang yang belum ditemukan diperkirakan masih simpang siur, ada yang menyebut 40,50, hingga 70 orang. Korban tewas juga simpang siur, ada yang menyebut 3,ada yang menyebut 6 orang. Para petugas penyelamat masih berjuang untuk melacak korban.

"Para kru tidak bisa melepas kaitan sekoci," kata Giuseppe D'Avino, seorang koki pastry dari Modena, yang akhirnya bisa terangkut sekoci setelah menunggu satu jam. "Keadaan sangat panik. Orang-orang berteriak-teriak. Anak-anak menangis. Bahkan terjadi baku hatam di antara penumpang," katanya.

Sekelompok turis dari Jerman yang selamat menyatakan, pesan yang disampaikan kepada penumpang sangat menyesatkan. "Dikatakan, tidak usah khawatir, tidak usah khawatir," kata seorang di antaranya. Lalu penumpang dibiarkan antre sendiri ke sekoci. "Selama lebih 3 jam, kami tidak melihat seorang pun kru kapal," kata seorang warga Jerman lainnya bernama Schmitz.

Penumpang kapal yang selamat diungsikan ke sekolah, hotel dan gereja di Kota Giglio, sebuah kepulauan. Sedang yang terluka serius dilarikan ke pusat pertolongan pertama di tenda-tenda di dermaga. Ambulans hilir mudik dari pinggir laut dan memacu menaiki bukit yang terjal, diiringi sirene meraung-raung.

Jumlah penumpang yang selamat melebihi jumlah penduduk Kota Giglio yang hanya 1.500 orang. Walikota Giglio, Sergio Ortelli, meminta "siapa pun yang memiliki atap" untuk membuka pintu rumahnya untuk para korban kapal pesiar. Korban selamat juga ada yang dibawa helikopter dan kapal feri ke Kota Grosseto dan Porto Santo Stefano.

Costa Crociere, perusahaan pemilik kapal pesiar, mengatakan belum mengetahui dengan segera penyebab kecelakaan itu. "Pikiran kami tertuju ke para korban dan kami ingin menyampaikan belasungkawa kami dan kedekatan kami kepada keluarga dan teman-teman," katanya.

Costa Concordia, kapal terbesar yang pernah dibangun di Italia, dijadwalkan mengitari Savona, Marseille, Barcelona, Palma de Mallorca, Cagliari dan Palermo, dan pelayaran itu dijanjikan akan menjadi perjalanan dengan 'aroma buah jeruk'.

(nrl/vta)

0 komentar:

Poskan Komentar